Surat
Terakhir Untuk Ibu
Aku
dan ibuku tinggal di kota Bandung hanya berdua saja sejak ayah meninggal ketika
aku masih kecil karena sebuah peperangan melanda negera ini, karena ayah ku
adalah seorang tentara nasional Indonesia. Semenjak saat itu aku sudah dari
kecil hidup mandiri apapun kebutuhan aku dan ibuku kami cari berdua. Karena
ayahku hanya seorang tentara dan hanya mendapat tunjangan perbulannya, ketika
angin melewati telinga ibuku dia berfikir kalau dia ingin membuka usaha jual
beli agar dapat melangsungkan kehidupan kami berdua dan menyekolahkan aku
sampai tingkatan paling tinggi.
Ketika aku masih kecil aku sering
mendapat hinaan karena aku yang banyak penyakit yang terus merusak tubuh kecil
ini. Menginjak remaja aku di bertemukan dengan teman untuk yang pertama kalinya
yang bernama Nathan, ia dapat menerima aku apa adanya. Itu pun juga karena
peran ibuku yang membujuk Nathan untuk menjadi teman sekolahku waktu menginjak
bangku sekolah menengah pertama. Karena orang tua Nathan adalah teman ibuku
waktu berada di bangku sekolah dasar dahulu.
Karena aku tidak mau merepotkan
ibuku ketika masih duduk di bangku sekolah menengah pertama ketika ingin mau
membeli sesuatu keperluan sekolah seperti buku yang di perlukan pada suatu
macam materi pelajaran, aku menjadi buruh angkut di pasar tradisional. Biarpun
hasilnya tidak terlalu besar namun ketika aku lakukan setiap pulang sekolah
secara terus menurus akhirnya selama kurang lebih satu bulan aku dapat membeli
buku keperluanku itu. Seketika kejadian tersebut membuat semua teman temean ku
yang melihatku melakukan pekerjaan tersebut mungkin seperti rendah dimata
mereka, karena hanya seorang buruh angkut di sebuah pasar.
Namun berbeda dengan Nathan yang
terlihat sedikit menghargai pekerjaan meskipun gajinya sekecil butir beras.
Kemudian Nathan berbicara “kenapa kamu mau bekerja seberat ini padahal gaji
yang di terimanya pun kecil ? ”. Kemudian aku menjawab “karena hanya pekerjaan
ini yang hanya bisa bersamaan dengan sekolah, dan akupun tidak meninggalkan
sekolahku. “ .
Ketika mendekati hari ulangan akhir
semester ibuku bertanya kepadaku “kenapa akhir akhir ini kamu pulangnya
terlambat terus nak ? apakah ada masalah dengan teman teman mu di sekolah ? “
dan aku menjawab sedikti gugup karena harus berbohong kepada ibuku “ tidak apa
apa bu, aku hanya belajar di perpustakaan daerah untuk membaca buku yang tidak
dapat aku beli bu. “
Ketika sudah selesai ulangan akhir
semester ibuku sempat terkejut karena uang sumbangan untuk sekolah sudah dibayar,
karena ibuku penasaran dengan semua itu kemudian ibuku bertanya dengan sedikit
marah kepadaku sesudah sampai di rumah “ itu uang pembayaran sumbangan sekolah
kenapa sudah di bayar ? “ aku pun menjawab dengan hati hati “ iya bu itu
kemarin aku menang lomba menulis sebuah rangkuman di perpustkaan daerah dan
uangnya aku buat untuk membayar uang sumbangna sekolah itu. “ ibuku percaya,
namun aku merasa berbohong untuk kesekian kalinya terhadap ibuku.
Sekarang ini aku sudah memasuki masa
masa akhir belajarku di tingkat sekolah menengah pertama yang aku dan Nathan
artinya akan berpisah ketika sudah memasuki masa sekolah menenghan akhir. Di
hati aku merasa takut apabila Nathan datang kerumahku ketika merayakan hari
perpisahan sekolah menengah pertama untuk memberitahukan kalau sesudah pulang
sekolah aku selalu menjadi buruh angkut di sebuah pasar. Namun itu hanya
pikiran bodohku saja, masak seorang Nathan yang bergengsi tinggi mau bermain di
rumah ku yang terbilang cukup kecil untuk beberapa orang ketika merayakan
sebuah acara.
Ujian Nasional sekolah menengah
pertama aku ewati dengan penuh percaya diri karene aku sudha mempersiapkan
peajaran yang akan keluar di ujian nasional tersebut. Hari terakhir ujian
nasional pun aku lewati dan nilai yang aku tunggu tunggu seperti memancing ikan
di sebuah laut lepas dengan alat yang seadanya. Lama sekali aku dan Nathan
menunggu nilai yang akan keluar di perkirakan kurang satu minggu lagi. Hari
yang aku tunggu tunggu pun sudah datang dan aku di kasih sebuah ammplop yang
berisikan hasil ujian nasional. Aku bukan dengan hati hati dan angsung melihat
rata rata niainya pun memuaskan dan aku perkirakan dpat meneruskan sekolah
lanjutan di SMA N 11 Bandung.
Ketika hari pertama pendaftaran di
SMA N 11 Bandung terdpat ratusan murid dari berbagai sekolah menengah pertama
dari Bandung maupun luar kota Bandung. Dan ketika aku berkeliling daerah SMA N
11 Bandung aku bertemu dengan Nathan dan keluargnya, kemudian Nathan
mendekatiku dan keluargnya mengobrol dengan ibuku di sebuah teras kelas. Ketika
sudah mendaftar aku dan ibu pergi pulang kerumah dan menunggu hasil seleksi
keluar.
Selang beberpa hari hasil nya pun di
umumkan dan terdapat namaku dan Nathan yang artinya kita berdua sudah sekolah
bersama selama enam tahun seja tingkat sekolah menengah pertama.
Kemudian masa sekolah menengah
akhirpun aku lewat dengan begtu cepat seperti anak pada umumnya. Kemudian aku
meneruskan sekolahku di ITB yang notabene universitas yang begitu terkenal di
seluruh Indonesia. Kemudian aku mengambil jurusan dibidang kedokteran di sana .
kemudian untuk membayar kuliah tersebut aku bekerja sampingan yaitu menjadi
penjaga disebuah toko di daerah sekitar rumah.
Kuliah pun sudah selesai sampai aku
di wisuda dan menjadi seorang dokter di rumah sakit terkenal di daerah Bandung.
Penyakit lama pun yang diperkirakan sudah sembuh tiba tiba kumat kembali dan
menjadi mimpi buruk ku untuk menjadi seorang dokter. Ibu saya berusaha keras
agar aku bisa sembuh dan menjadi dokter yang mengobati orang bukan orang yang
mencari obat.
Sakitku pun semakin parah dan di
sela sela sakit yang melanda ku ini ku sempatkan untuk menulis surat yang
berisikan perminta maaf ku terhadap ibu ku yang selalu menemaniku di setiap
kehidupan ini. Akhirnya dokter memperkirakan bahwa hidupku hanya tinggal
beberapa hari lagi. Ibu ku mencoba menguatkanku untuk tetap mencoba melawan
penyakit yang dari dulu sampai sekarang menyerang aku.
Akhirnya aku pun tiba tiba menjadi
tidak sadar dan aku dapat melihat bahwa ibuku menangis melihat tubuhku terpapar
kaku diatas tempat tidur rumah sakit.