Sabtu, 09 Mei 2020

Surat Terakhir Untuk Ibu cerpen karya Dian Putra Laroybafih


Surat Terakhir Untuk Ibu
Aku dan ibuku tinggal di kota Bandung hanya berdua saja sejak ayah meninggal ketika aku masih kecil karena sebuah peperangan melanda negera ini, karena ayah ku adalah seorang tentara nasional Indonesia. Semenjak saat itu aku sudah dari kecil hidup mandiri apapun kebutuhan aku dan ibuku kami cari berdua. Karena ayahku hanya seorang tentara dan hanya mendapat tunjangan perbulannya, ketika angin melewati telinga ibuku dia berfikir kalau dia ingin membuka usaha jual beli agar dapat melangsungkan kehidupan kami berdua dan menyekolahkan aku sampai tingkatan paling tinggi.
            Ketika aku masih kecil aku sering mendapat hinaan karena aku yang banyak penyakit yang terus merusak tubuh kecil ini. Menginjak remaja aku di bertemukan dengan teman untuk yang pertama kalinya yang bernama Nathan, ia dapat menerima aku apa adanya. Itu pun juga karena peran ibuku yang membujuk Nathan untuk menjadi teman sekolahku waktu menginjak bangku sekolah menengah pertama. Karena orang tua Nathan adalah teman ibuku waktu berada di bangku sekolah dasar dahulu.
            Karena aku tidak mau merepotkan ibuku ketika masih duduk di bangku sekolah menengah pertama ketika ingin mau membeli sesuatu keperluan sekolah seperti buku yang di perlukan pada suatu macam materi pelajaran, aku menjadi buruh angkut di pasar tradisional. Biarpun hasilnya tidak terlalu besar namun ketika aku lakukan setiap pulang sekolah secara terus menurus akhirnya selama kurang lebih satu bulan aku dapat membeli buku keperluanku itu. Seketika kejadian tersebut membuat semua teman temean ku yang melihatku melakukan pekerjaan tersebut mungkin seperti rendah dimata mereka, karena hanya seorang buruh angkut di sebuah pasar.
            Namun berbeda dengan Nathan yang terlihat sedikit menghargai pekerjaan meskipun gajinya sekecil butir beras. Kemudian Nathan berbicara “kenapa kamu mau bekerja seberat ini padahal gaji yang di terimanya pun kecil ? ”. Kemudian aku menjawab “karena hanya pekerjaan ini yang hanya bisa bersamaan dengan sekolah, dan akupun tidak meninggalkan sekolahku. “ .
            Ketika mendekati hari ulangan akhir semester ibuku bertanya kepadaku “kenapa akhir akhir ini kamu pulangnya terlambat terus nak ? apakah ada masalah dengan teman teman mu di sekolah ? “ dan aku menjawab sedikti gugup karena harus berbohong kepada ibuku “ tidak apa apa bu, aku hanya belajar di perpustakaan daerah untuk membaca buku yang tidak dapat aku beli bu. “
            Ketika sudah selesai ulangan akhir semester ibuku sempat terkejut karena uang sumbangan untuk sekolah sudah dibayar, karena ibuku penasaran dengan semua itu kemudian ibuku bertanya dengan sedikit marah kepadaku sesudah sampai di rumah “ itu uang pembayaran sumbangan sekolah kenapa sudah di bayar ? “ aku pun menjawab dengan hati hati “ iya bu itu kemarin aku menang lomba menulis sebuah rangkuman di perpustkaan daerah dan uangnya aku buat untuk membayar uang sumbangna sekolah itu. “ ibuku percaya, namun aku merasa berbohong untuk kesekian kalinya terhadap ibuku.
            Sekarang ini aku sudah memasuki masa masa akhir belajarku di tingkat sekolah menengah pertama yang aku dan Nathan artinya akan berpisah ketika sudah memasuki masa sekolah menenghan akhir. Di hati aku merasa takut apabila Nathan datang kerumahku ketika merayakan hari perpisahan sekolah menengah pertama untuk memberitahukan kalau sesudah pulang sekolah aku selalu menjadi buruh angkut di sebuah pasar. Namun itu hanya pikiran bodohku saja, masak seorang Nathan yang bergengsi tinggi mau bermain di rumah ku yang terbilang cukup kecil untuk beberapa orang ketika merayakan sebuah acara.
            Ujian Nasional sekolah menengah pertama aku ewati dengan penuh percaya diri karene aku sudha mempersiapkan peajaran yang akan keluar di ujian nasional tersebut. Hari terakhir ujian nasional pun aku lewati dan nilai yang aku tunggu tunggu seperti memancing ikan di sebuah laut lepas dengan alat yang seadanya. Lama sekali aku dan Nathan menunggu nilai yang akan keluar di perkirakan kurang satu minggu lagi. Hari yang aku tunggu tunggu pun sudah datang dan aku di kasih sebuah ammplop yang berisikan hasil ujian nasional. Aku bukan dengan hati hati dan angsung melihat rata rata niainya pun memuaskan dan aku perkirakan dpat meneruskan sekolah lanjutan di SMA N 11 Bandung.
            Ketika hari pertama pendaftaran di SMA N 11 Bandung terdpat ratusan murid dari berbagai sekolah menengah pertama dari Bandung maupun luar kota Bandung. Dan ketika aku berkeliling daerah SMA N 11 Bandung aku bertemu dengan Nathan dan keluargnya, kemudian Nathan mendekatiku dan keluargnya mengobrol dengan ibuku di sebuah teras kelas. Ketika sudah mendaftar aku dan ibu pergi pulang kerumah dan menunggu hasil seleksi keluar.
            Selang beberpa hari hasil nya pun di umumkan dan terdapat namaku dan Nathan yang artinya kita berdua sudah sekolah bersama selama enam tahun seja tingkat sekolah menengah pertama.
            Kemudian masa sekolah menengah akhirpun aku lewat dengan begtu cepat seperti anak pada umumnya. Kemudian aku meneruskan sekolahku di ITB yang notabene universitas yang begitu terkenal di seluruh Indonesia. Kemudian aku mengambil jurusan dibidang kedokteran di sana . kemudian untuk membayar kuliah tersebut aku bekerja sampingan yaitu menjadi penjaga disebuah toko di daerah sekitar rumah.
            Kuliah pun sudah selesai sampai aku di wisuda dan menjadi seorang dokter di rumah sakit terkenal di daerah Bandung. Penyakit lama pun yang diperkirakan sudah sembuh tiba tiba kumat kembali dan menjadi mimpi buruk ku untuk menjadi seorang dokter. Ibu saya berusaha keras agar aku bisa sembuh dan menjadi dokter yang mengobati orang bukan orang yang mencari obat.
            Sakitku pun semakin parah dan di sela sela sakit yang melanda ku ini ku sempatkan untuk menulis surat yang berisikan perminta maaf ku terhadap ibu ku yang selalu menemaniku di setiap kehidupan ini. Akhirnya dokter memperkirakan bahwa hidupku hanya tinggal beberapa hari lagi. Ibu ku mencoba menguatkanku untuk tetap mencoba melawan penyakit yang dari dulu sampai sekarang menyerang aku.
            Akhirnya aku pun tiba tiba menjadi tidak sadar dan aku dapat melihat bahwa ibuku menangis melihat tubuhku terpapar kaku diatas tempat tidur rumah sakit.